Monday, May 6, 2019

Pemimpin Dan Pemilih Adalah Ujian



Sembrono
Sesungguhnya setiap pemimpin yang terpilih dan lahir adalah ujian bagi pemilihnya, kenapa demikian? Karena lahirnya seorang pemimpin adalah akibat sebuah proses panjang, yang didalamnya melibatkan banyak hal dan banyak pihak, serta banyak modal, mulai dari modal abab sampai dengan modal yang paling bernilai yaitu harga diri. Sadar atau tidak, bahwa pemilih adalah salah satu pihak yang ikut andil urun dalam permodalan ini bahkan kadang pemilih adalah modal itu sendiri.

Pemimpin adalah ujian, karena setelah dia terpilih dengan semua latar belakang sebagaimana diatas, maka sejak keterpilihannya dipundaknyalah seluruh harapan dari masyarakat (pemilih maupun yang tidak ikut memilih) diletakkan, harapan akan segala hal yang lebih baik dengan jangkauan waktu yang relative singkat, semua harus berubah (termasuk kesejahteraan orang per orang yang mendukungnyapun haruslah berubah, yang dahulu kemana-mana hanya jual omongan dan bawa kertas beberapa lembar yang isinya adalah itung-itungan yang tidak matematis namun terlihat matematis, yang penting mempunyai nilai ekonomis, buat nyambung  hidup, kini banyak diantaranya kamana-mana sudah bawa daftar proyek yang sudah disahkan maupun dalam proses usulan, dan meningkatlah mereka kini menjadi pialang, yang intinya kemana-mana yang dibicarakan hanyalah prosentase. Ini bisa jadi adalah sebagai rentetan ketidak puasan akan berbagai macam hal dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan ber pemerintah daerah. Mulai dari masalah layanan public, pendidikan, kesehatan, sarana-prasarana, pertanian, angkatan kerja dan lapangannya, ekonomi, sosial, budaya, KKN bagi orang/pihak/kelompok/ golongan yang merasa sudah ikut andil dalam sebuah proses pemenangan.

Sejalan dengan perkembangan dan pasang surutnya undang-undang yang mengatur tentang pemilihan kepala daerah misalnya; bahwa orang yang berdiri sebagai pihak lawan pun itu, adalah bagian dari kelompok yang ikut membantu memenangkan pihak yang terpilih (kecuali pasca penetapan calon tunggal oleh Mahkamah Konstitusi), sehingga begitu besar ekspektasi harapan akan sebuah keadaan, kehidupan dan peruntungan yang lebih baik, bagi semua pihak yang terlibat dalam sebuah proses demokrasi yang dipandegani oleh pemimpin yang lahir (terpilih).

Atas dasar itu semuanya saja, harus benar-benar sadar bahwa lahirnya seorang pemimpin adalah ujian bagi semua, jabatan adalah ujian khususnya bagi yang memikulnya. Walaupun kadang bagi satu dua orang diantaranya bahwa jabatan itu adalah kehormatan dengan segala nikmatnya, hal tersebut hanyalah sebagain kecil yang jumlahnya tak seberapa, akan tetapi yang lebih banyak dan mayoritas adalah bahwa jabatan adalah ujian. Baik bagi yang menjabat demikian juga bagi  yang memilih dan termasuk bagi yang tidak memilih, dengan kata lain mayoritas masyarakat pada umumnya.

Dengan sederhana dapat juga dikatakan bahwa semakin tidak tau dirinya seorang pemimpin, maka semakin besarlah cobaan dan godaan buat yang dipimpin.
Sebagai bagian dari masyarakat; harus disadari bahwa saat-saat kita menentukan pilihan sebelum dianya terpilih sesungguhnya adalah saat-saat yang sangat krusial dan genting, karena apapun hasil atas sebuah pilihan semuanya mengandung resiko dengan segala kemungkinan, sehingga langsung maupun tidak kita adalah orang pertama kali yang harus bertanggungjawab atas segala apa yang kelak dan kemudian akan terjadi dalam proses berjalannya kepemimpinan tersebut; akankah kepemimpinan itu akan berjalan sebagaimana yang dijanjikan, akankah kepemimpinan tersebut akan bermanfaat sebagaimana yang ideal, akankah kepemimpinan tersebut akan bermanfaat sebagaimana kehendak dari mayoritas kita,  ataukah sebaliknya dan sebaliknya dengan alasan apapun itu bahwa kita adalah pihak yang seharusnya bertanggungjawab. Terlebih lagi bilamana jalannya kepemimpinan itu ternyata diluar daripada sebagaimana yang diharapkan (diluar dari segala hal yang dulunya muluk-muluk dan empuk-empuk), maka sebagai orang yang ber iman bisa dipastikan bahwa kepemimpinan sang pemimpin benar-benar menjadi ujian bagi kita untuk tidak menjadi orang yang berdosa. Karenanya setiap kepemimpinan wajib untuk kita kawal dengan sebaik mungkin, memastikan bahwa sang pemimpin jalannya tidak menceng jauh-jauh dari sebagaimana yang dijanjikan dan menjadi harapan masyarakat luas, dan bila ternyata pada akhirnya kita harus kecewa karena beberapa hal atau bahkan mungkin banyak hal, maka untuk tidak menjadi orang yang berdosa atau gemar menabung dosa, kita harus nyetok sabar dan ikhlas sebanyak-banyaknya. Disisi lain tidak menutup mata bahwa masih ada juga yang berpendapat “kini tugas menghantar saudara telah purna dan saatnya kami kembali pada keadaan semula untuk menjadi bukan siapa-siapa selain pihak yang berseberangan dengan saudara dalam rangka membela kepentingan rakyat,” yang disampaikan ini benar dan sangat ideal tetapi pada tataran implementasi hampir seluruhnya jargon demikian adalah “Nol BESAR” Karena justru orang yang demikian adalah orang yang paling mudah untuk di “rembuk” oleh pemimpin dan kekuasaan. Dengan demikian maka sabar untuk tidak berkata melebihi dari yang sewajarnya, termasuk tidak menyerang siapapun terutama pemimpin yang tadinya sangat kita idolakan, ikhklas karena kita adalah bagian penting yang terlibat didalamnya. Karenanya penting untuk kita renungkan berikut ini bahwa;
“memilih pemimpin dengan cara yang baik dan benar sama pentingnya dengan menjadi pemimpin yang baik dan benar”
Selamat Beraktifitas dan Sukses Buat Sahabat Semua
Salam.

22/2/2016

Slechte Samenzwering

Ilustrasi dicomot dari blog orang lain
Illustrasi dicomot dari blog orang lain
Yang lebih kita kenal dengan sebutan "Konspirasi" atau Persekongkolan Jahat, sudah ada sejak awal peradaban manusia, disetiap system bernegara dan berdemokrasi, konspirasi itu terus langgeng adanya sepanjang peradaban hingga sekarang. Konspirasi dalam banyak perspektif pastinya membawa akibat yang fatal, sebagaimana kisah dan film-film intelijen, bahkan sampai pada hal "menghilangkan nyawa" orang lain atau sekelompok orang tanpa pandang bulu dan pilih-pilih, semua bergantung order dari yang berkepentingan dan seberapa besar keuntungan yang akan didapatkan.

Persekongkolan jahat apapun bentuknya, diranah manapun dilakukannya, semua mempunyai kesamaan motif dan latar belakang yaitu "Kompetisi."

Banyak manusia dalam mencapai dan memenuhi hasrat keinginannya tidak lagi dengan cara-cara yang wajar, kejujuran dan hati nurani sudah hilang entah kemana, persekongkolan jahat digunakan sebagai cara untuk mencapai tujuan, tidak peduli lagi apa yang dirasakan orang lain, yang penting hasrat dan keinginannnya tercapai.

Dalam kompetisi yang tidak seimbang disegala halnya dan masih ditambah banyak faktor lain, sementara pada sisi yang berbeda salah satu pihak telah dibutakan oleh syahwat besar dan buruk untuk dapat (harus) unggul dan berkuasa, dari tidak cakap menjadi harus yang paling cakap, dari tak bermoral tak beradab, harus jadi yang paling bermoral dan paling beradab, dari tidak kompeten tidak punya integritas, harus menjadi orang yang paling punya kompetensi dan paling punya integritas, dst..., disanalah konspirasi kemudian punya ruang kebutuhan untuk tumbuh subur.

Persekongkolan jahat ini tidak saja terjadi dalam dunia politik, dan organisasi, tapi dalam komunitas kecil juga segala bentuk kegiatan kompetisi pun juga demikian. Tidaklah ada itikad baik dalam sebuah persekongkolan jahat, tetap saja bermotif superior dan eksperior.

Persekongkolan jahat yang dimuati syahwat sudah tidak melihat batasan apapun lagi, dia bergerak dalam diam melompati semua batasan yang ada  bahkan persekongkolan jahat dapat menembus batas manusia "sehat."

Kedekatan pribadi antara seorang yang lebih dengan seorang yang lebih lainnya, jika disalah gunakan adalah awal sekaligus modal lahirnya persekongkolan jahat, namun banyak orang pandai mengemasnya sebagai sebuah kebaikan, padahal tetap saja sebuah persekongkolan jahat, adalah sebuah kejahatan.

Kalau dalam kegiatan yang berskala kecil saja sudah sarat persekongkolan, bagaimana mungkin bisa mewujudkan cita-cita yang baik dalam skala besar? Runtuhnya kesadaran moral untuk konsisten berjuang dan berkompetisi secara normal, berbuat kebaikan, hidup bergaul membangun lingkungan sosial dan politik yang semestinya positif nyata sudah tidak dimiliki lagi, dan kemudian karenanya dengan mudah membuat sekelompok orang tergerak melakukan sebuah persekongkolan jahat.

Persekongkolan jahat adalah sebuah bentuk rekayasa atas sebuah keadaan, dan bahkan latar belakang yang dijadikan alasan untuk melawan kehendak dan aturan yang sudah ditentukan (seluruh norma yang ada dan hidup) pun dipalsukan, oleh karenanya bisa dipastikan hal demikian tidak akan pernah mendapat ridho dan keberkahan-Nya.

Oleh karena dampak yang ingin dicapai begitu signifikan, meskipun persekongkolan jahat atau konspirasinya ada dalam skala kecil-kecilan, tetapi untuk mencapai sebuah missi sukses, konspirasi selalu dan pasti akan menelan "biaya" yang juga sangat "mahal," baik dipihak sang konspirator juga dipihak korban. Sebagaimana layaknya film-film layar lebar dalam rangkaian kegiatannya persekongkolan jahat selalu sukses menemukan dan mengelola orang-orang yang sesungguhnya "lemah" sebagai  "sasaran antara" dan dalam dunia politik,orang-orang yang masuk kategori ini justru sangatlah banyak, bahkan yang paling banyak.

Friday, April 5, 2019

Kisahnya Dengan(nya)

Tadinya mau bikin update fb begini, tapi tidak jadi...karena ternyata aku ga punya nyali

Bang...ini bgm kog dia begitu??

Kecewa? Iya!
Marah? Iya!
Sebel? Iya!
Mangkel? Iya!

KENAPA?

Nah mulai ruwet tidak bisa jawab, karena apapun jawabnya atas itu, yang jelas karena tetep saja koe salah..., lah lapo kog njajal nantang perkoro memupuk perasaan dan harapan, yang meskipun sadar tetapi jelas tak siap dengan konsekuensinya. Ingin berteriak hmmm kau tak mampu...bahkan tak bisa karena engkau akan "dinilai," dan jelas kau tak siap juga untuk itu...

Lah...trs bagaimana ini?

Tinggalen ngopi....

Monday, March 11, 2019

Jodoh (yang tidak jodoh)


Bang...apakah ia jodohku? 
Bagaimana aku bisa mengetahuinya?

Ada banyak cara dan teori yang berkisah tentang jodoh. Diawali sejak saat pertama jatuh cinta, lalu berpacaran, lalu nikahan semua berjalan normal layaknya hidup berumahtangga pada umumnya. Bahkan ada yang nikah sar’i yang tidak pernah didahului dengan menu pacaran apalagi test food, tetapi kenal langsung ijab. Mereka bilang itu jodoh. 

Sebaliknya saat mereka mulai gagal dalam diplomasi dua arah dan perlahan menuju bubaran, mereka kata bahwa memang mereka bukan jodoh. Lah kog gampangmen, mudah banget jodoh ora jodoh mbok putus sambung sak sirmu dewe?

Ditengah jalan, dengan atau tanpa alasan, entah karena faktor apa, tiba-tiba ada getar cinta yang menyambar, kaget seolah tak percaya, karena merasa telah membentengi diri, kenapa pada akhirnya jebol juga? Padahal secara umum hidup sudah bahagia, bahkan dengan berbagai status sosial dan predikat yang disandang, boleh dibilang sudah mapan dan sukses diatas rata-rata. Ingin rasanya berontak dan berlari, tetapi seluruh indra yang dimiliki tidak merespons demikian dan malah sebaliknya.

Ditengah kebingungan akan keadaan hati dan diri sendiri, terlebih hubungan yang dijalani kian berbahaya dan hampir menepi di bibir jurang kemaluan, setiap perjumpaan tiada yang tidak diisi dengan kegiatan yang sesungguhnya keramat dan hanya boleh dilakukan dengan orang yang sah semata, berkeringat mereka berpacu..., diselingi kesadaran yang kadang memberontak atas realitas cinta yang begitu kuat dan mendalam.

Seiring waktu pada akhirnya kebenaran dan akal sehatlah yang menang, karena mereka keduanya adalah manusia-manusia yang terdidik, kesadaran dan akal sehat membuat mereka mendadak seakan saling tidak memahami,  tidak ada sesuatu yang abadi apalagi beberapa buah kesalahan. Kira-kira begitulah akal sehat menuntun kesadaran mereka berdua pasangan mesum intlektual itu.

Di ujung waktu, mereka mulai bertanya dalam hati, apakah yang mereka lakukan adalah takdir? Bukankah takdir dapat dirubah dengan memperjuangkannya? 
Apakah pertemuan mereka adalah jodoh, sekaligus disaat yang sama berarti tidak jodoh bagi sumpah suci perkawinan mereka dengan suami dan istri masing-masing? 
Dan saat mereka berpisah kini berarti mereka yang haram dan jinah memang tidak jodoh bagi masing-masing dan kembali jodoh bagi suami istri mereka berdua hanya karena si perempuan tidak sampai jadi pelakor dan si laki-laki gagal jadi pebinor?

Ah...cinta tentu tak selalu dan selamanya semudah bait-bait diatas itu. Cinta pastinya kerap lebih rumit dari semua rumus fisika dan math yang bisa dipelajari (meskipun kadang ada yang simpel, sebab katanya cinta itu tak mengenal alasan juga sebab, karena dia kadang memang buta). Jika matematika realistik dan nalariah jelas ada teorinya, sebaliknya cinta, tidak ada yang benar-benar expert dalam sub bidang ini. Semua hanya bisa menerka dan merasakannya dengan dibumbui sedikit logika, bahkan logika yang ngawur sekalipun.

Bang....kog jadi panjang, kan tadi judulnya tentang jodoh?

Iya neng tenanglah, semua pasti akan njodoh pada akhirnya, candaku.

Sesungguhnya jodoh itu tidak relefan bila diukur atas dasar tepat atau tidak untuk jangka waktu yang belum dijalani sedang dijalani atau untuk masa yang belum tiba. 
Nah bingungkan...? Aku juga bingung jangan kuatir neng punya temen...hihihi

Sesungguhnya yang lain bahwa sebenarnya jodoh itu adalah seberapa lama api cinta itu dapat kita pertahankan dalam ikatan perkawinan, sampai tiba waktunya api itu padam bahkan sama sekali tidak meninggalkan bara, maka pada saat itu sesunguhnya jodoh telah berakhir...

Bang ada tidak sesungguhnya abang yang lain?

Berusaha berpikir keras, dan sejurus kemudian aku bilang ada!

Alkisah seorang wanita dan pria bersepakat untuk menikah, tanpa ada kata-kata cinta, hanya karena mereka “merasa” saling cocok dan saling melengkapi satu dan lainnya. Waktu terus berjalan mereka melalui penuh kehangatan hingga tak sadar rambut mulai beruban, rupa tak lagi menawan seperti yang dulu, mereka hidup bahagia ditengah berbagai dinamika berumahtangga. Tiba saatnya terjadi sebuah kecelakaan yang mengakibatkan si wanita meninggal dunia. Pria matang dewasa itu menunduk berjalan dalam haru menghantar wanitanya ke kuburan. Setelah jenazahnya dimasukkan kedalam liang lahat, lelaki itu berdiri lama, diam seolah dia tegar dikesendirian, rupanya hatinya dan hati almarhumah mendiang istrinya sedang saling berbisik dan masing-masing hati mereka bicara, sayangku sekarang aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, bahwa aku sangat bahagia selama menjalani hidup bersama denganmu, sungguh aku merasa dan begitu yakin kini akan cinta yang kita miliki, yang selama ini aku tahu tidak pernah kita ucapkan karena kita sama-sama takut saling menyakiti dan kehilangan, terlebih oleh penghianatan. Terimakasih sayank karena cinta kita telah menghantar aku dan kau setia sampai ditepi kubur ini, kita memang “jodoh” dan tidak ada keraguan lagi sedikit pun tentang itu bahwa betul engkau adalah jodohku.

Bang terimakasih ya...

Iya neng sama-sama, 
hiduplah berbahagia dan buktikan semuanya nanti ditepi kubur mu atau kuburnya, pria yang mana itu? Sisanya dari tepi kubur itu mundur waktu ke belakang teruuuus sampai dengan waktumu hari ini, yang terpenting adalah, lakukan yang terbaik dan yakinkan dirimu tak pernah salah merasakan yang ada.

END CHAT
(rupanya si neng wes bablas)
😊😊😊


Tuesday, November 13, 2018

PUTRA DAERAH, KEKUATAN ATAUKAH ANCAMAN, TERHADAP PERSATUAN NASIONAL?


Hal yang sangat menarik sesaat sebelum menjelang pesta demokrasi, kerap kita dengar mendadak berkembangnya wacana putra daerah. Akhir-akhir ini kata putra daerah semakin membumi dan menjadi (kan) nilai jual, bahkan diyakini menjadi salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang calon pemimpin (daerah). Sehingga jangan heran lagi ketika seorang calon pemimpin politik menambahkan keterangan "putra daerah" pada setiap kampanyenya.

Melihat fenomena tersebut, diperlukan pemikiran, analisa, pengalaman serta referensi secara jernih khususnya dalam memaknai kalimat putra. Apakah yang dimaksud putra daerah adalah mereka yang lahir, berkependudukan dan hidup tumbuh besar di daerah yang...? Apakah putra daerah merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh calon pemimpin? Dan ataukah putra daerah adalah mereka yang memiliki hubungan biologis dengan masyarakat sekitar atau sekedar lahir di suatu daerah dan setelah itu, mereka pergi dan tidak pernah memberikan konstribusi terhadap daerah tersebut?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) tidak terdapat arti dari kata putra daerah. Kata yang berdekatan ialah bumi putera yang memiliki arti anak negeri atau penduduk asli atau pribumi. Masih berdasarkan kamus tersebut jika kata putra daerah dibagi dua, yakni putra dan daerah, maka didapati arti putra yaitu anak laki-laki dan daerah yakni suatu tempat sekeliling atau yang termasuk di lingkungan suatu kota, wilayah, dll.
Sedangkan menurut webstern dictionary kata putra daerah lebih dekat kepada kata native (orang pribumi) yang artinya an origin in habitant (penduduk asli) or long life resident (penduduk tetap) atau existing in or belonging to one by nature (seseorang yang tinggal di daerah tersebut).

Berdasarkan defenisi diatas dalam teori Samuel P. Huntington, mendefenisikan putra daerah menjadi 4 jenis yang salah satunya adalah :
Putra Daerah daerah politik, yaitu putra daerah genealogis yang memiliki kaitan politik dengan daerah tersebut, bahkan Putra daerah politik terkadang hanyalah klaim diri dan melekatkan status sebagai putra daerah dan hanya memiliki hubungan biologis (orang tua atau keluarga berasal dari daerah yang dimaksud) dengan masyarakat sekitar namun tidak pernah memberikan konstribusi kepada daerah tersebut, Sering kita dapatkan seorang perantau yang telah sukses kembali kedaerah hanya karena kepentingan politik.

Putra daerah ekonomi, yaitu putra daerah genealogis yang karena kapasitas ekonominya kemudian memiliki kaitan dengan daerah asalnya melalui kegiatan investasi atau jaringan bisnis di daerah asalnya. Putra daerah ini terlintas hanya memiliki kepentingan pragmatis dengan daerah asalnya. Mereka menggunakan daerah hanya sebagai basis pemenuhan kepentingan politik dan ekonomi mereka sendiri. Namun sebaliknya daerah itu pun sedikit banyak memperoleh keuntungan politik dan ekonomi dari mereka.

Putra daerah sosiologis, yaitu mereka yang bukan saja memiliki keterkaitan genealogis dengan daerah tersebut tetapi juga hidup, tumbuh, dan besar serta berinteraksi dengan masyarakat daerah tersebut. Mereka menjadi bagian sosiologis dari daerah tersebut. Dan banyak memberikan konstribusi kepada masyarakat sekitar dan daerah serta melakukan keseharianya memiliki hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.

Dari defenisi-defenisi di atas, jelaslah bahwa putra daerah tidak dapat didefenisikan secara sempit. Putra daerah tidak hanya dapat diartikan sebagai orang yang merupakan penduduk asli dari suatu daerah atau merupakan suku dari suatu daerah tersebut. Namun defenisi putra daerah mengandung makna yang luas tergantung dari obyek dan sudut pandang kita menilai. Selain itu, dalam suatu daerah tidak mungkin hanya terdapat satu macam suku atau pun ras tapi terdiri dari berbagai macam suku dari berbagai daerah yang datang dan menetap di daerah tersebut.
Inilah salah satu kekayaan budaya Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku.

Jika pemahaman-pemahaman tentang putra daerah ini terus dikembangkan maka akan memicu timbulnya semangat primordialisme atau rasa kesukuan yang berlebihan yang dapat mengancam keutuhan  suatu daerah bahkan negara Republik Indonesia.

Kembali ke pemilihan pemimpin politik daerah yang harus diutamakan ialah  tentang kapabilitas dari calon-calon pemimpin tersebut. Suatu daerah tidak hanya dapat dipimpin oleh pemimpin yang bermodalkan figur semata namun tidak memiliki kapabilitas, integritas terlebih lagi sikap ketegasan dan pangalaman sebagai pemimpin.

Pemimpin yang dibutuhkan oleh masyarakat yakni seseorang yang memiliki akseptabilitas saja namun juga ditunjang oleh moral yang baik serta public figure yang benar–benar telah teruji, memiliki kemampuan yang cukup untuk memimpin dan membimbing masyarakat dan juga memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas serta ketegasan yang sangat dibutuhkan di dunia  perpolitikan, serta disisi lain juga masih harus ditambah memiliki wawasan yang luas dan pandangan yang luas dan mampu menjawab segalah permasalahan suatu daerah dan keluhan rakyat.

Berangkat dari beberapa defenisi putra daerah,  bahwa terkadang adanya klaim status, yang melekatkan sebuah status dalam dirinya sebagai putra daerah sehingga menarik simpati masyarakat perlu analisa dan penerawangan yang tajam. Hak politik mencalonkan diri sebagai pimpinan politik daerah merupakan hak yang telah melekat pada setiap masyarakat, dan telah diatur dalam regulasi yang mengatur tentang pemilihan. Jadi yang perlu kita ketahui bersama klaim diri dengan melekatkan status sebagai bentuk sanderaan kepentingan politik (harus) perlu penafsiran dan pemaknaan yang jernih, beberapa fenomena yang telah terjadi akibat klaim diri demikian pada akhirnya berakibat sebagian masyarakat tertipu dan tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

Kita tidak membatasi hak Politik bagi mereka yang ingin bertarung dalam pesta demokrasi mendatang, Namun bercermin pada beberapa pengalam yang lalu perlu ada penalaran yang mesti kita hadirkan dari sekarang. Bahwa klaim diri sebagai putra daerah haruslah berdasarkan dengan defenisi dan sudut pandang yang telah disebutkan diatas (paling tidak) dan hal ini tidak terlepas dari "kepentingan dan kebutuhan" akan figur pemimpin yang ideal suatu daerah. Pemimpin yang mengetahui Geopolitik, Geografis dan Demografis serta keseharian suatu masyarakat dianggap ideal memimpin suatu daerah.

Jika suatu kepemimpinan diserahkan kepada yang tidak memiliki kapabilitas dan pengetahuan maka sesungguhnya kita sedang mempersiapkan kehancuran yang terencana akan daerah itu beserta tatanan soasial kemasyarakatannya.

Apakah masih kurang banyak contoh seorang yang menurut kita adalah asli putra daerah, namun ketika yang bersangkutan menduduki jabatan politik di daerahnya, hidupnya lalu berubah, jiwa sosial dan kemasyarakatannya berubah, seiring dengan rejekinya yang berubah, dia mulai membangun tembok sosial yang tinggi, sebagai pemisah antara dirinya dengan yang dia wakili, pintu rumahnya jadi tidak pernah lagi digedor-gedor, oleh mereka yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan, hanya karena tembok yang begitu besar menjulang tinggi memisahkan si pemimpin dengan yang dia wakili?

Jika amanat disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya”. ada yang bertanya, “bagaimana menyia-nyiakannya?” beliau menjawab, “jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Inilah keutamaan dalam mengajukan diri menjadi pemimpin sekaligus keutamaan dalam menentukan arah dukungan dalam memilih pemimpin. (*)

Wednesday, October 24, 2018

Aji ning diri saka lathi, Aji ning rogo soko busono, Agama ageming ati


Judul tulisan ini adalah pepatah Jawa yang sarat akan makna tentang berperilaku didunia yang tak seberapa lama ini.
  
Aji ning diri saka lathi: artinya adalah harga diri seseorang itu dapat dilihat dan dipercaya serta dihargai dari apa yang keluar dari mulutnya. Karena kepribadian yang murni itu tergambar dalam ucapan dan tutur kata sebagai penampilan mencerminkan "it's me". Pepatah ini menyangkut tentang betapa berarti harga diri (bisa diartikan sifat, kelakuan) seseorang yang bisa dilihat dari cara bicaranya. Lathi disini diartikan sebagai lidah. Seringkali seseorang mendapat masalah besar karena lidahnya, bisa dari cara bicaranya yang ngawur atau sembrono. Tapi tak jarang pula kita mendapat suatu kemudahan karena menjaga lidah kita. Bagi orang jawa khususnya orang jogja atau solo misalnya hal ini bukanlah sulit atau aneh karena memang totokoromo yang demikian sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari didalam keluarga dan ditengah-tengah masyarakat.
Jika kita sering bicara kasar atau kotor maka dengan sendirinya orang lain akan menganggap kita adalah orang yang cenderung negatif, karena ucapan gak jauh dari isi kepalanya. (beda kalo ngomong kasarnya cuma sekali dalam 4 tahun hihihihihi)

Pribahasa ini merupakan nasihat agar kita berhati-hati terhadap kata dan kalimat yang kita ucapkan. Sepatah dua patah kata yang meluncur dari lisan kita akan didengar dan diperhatikan oleh orang lain. Maka karenanya setiap ucapan harus diiringi dengan pertimbangan yang matang, disertai dengan pemikiran yang jernih, karena sesungguhnya kekuatan kepemimpinan ada dalam integritas, ada dalam pengendalian diri, ada dalam kemampuan berpikir tentang ide dan gagasan-gasan besar lalu mewujudkannya.

Apabila sesorang yang sering berbohong dan tidak konsisten dalam berkata-kata, lama-kelamaan orang akan hilang kepercayaan. Siapapun yang suka mengucapkan kata-kata pedas, kasar, menusuk hati, tentu akan sulit membangun persahabatan dan orang demikian ini akan dianggap sebagai pribadi yang punya kecenderungan suka melukai perasaan orang lain.
Jadi sob… bisa dibayangkan bila kita adalah sorang pemimpin, baik pemimpin di dalam keluarga apalagi pemimpin di tengah-tengah masyarakat dan terutama pemimpin sebuah bangsa, yang “lathi”nya kerap bunyi semau gue yang menyinggung orang lain bahkan menyakiti orang lain.
Sebaliknya jika lidah kita dijaga dengan berbicara yang positif dan sopan sebagaimana mestinya tentu akan membawa citra positif juga (bukan berarti pencitraan juga yak).

Jadi sekali lagi bahwa lidah/ucapan akan sangat berpengaruh, terlebih lagi saat hidup bermasyarakat (tidak termasuk hidup di hutan), sering kali cekcok antar tetangga terjadi karena lidah yang tak bisa dijaga. Fitnah sana-sini, mengumpat tak tentu arah atau menggosip. Kenapa bisa sampe segitu parahnya sih? Ya iya lah panjang terowongan bisa diukur, tapi kalau panjang tenggorokan siapa yang tau, terlebih bagi yang pandai bersilat lidah, iya khan sob..? 

Ajining diri soko lathi dalam perkembangan jawa, lidah akan sangat menjadi tolak ukur seseorang dalam menilai orang lain. Unggah ungguh atau sopan santun dalam berbicara dalam budaya (jawa) adalah suatu hal wajib yang harus ditaati, baik tua maupun muda tanpa pandang bulu. 

Ajining rogo soko busono: Secara kasat penampilan (appereance) itu mewakili diri kita. Mari kita tengok maaf gelandangan atau pengemis dengan pakaian yang kumal, apa yang pertama kali kita pikirkan?

Lebih gampangnya, di sekolah, di kantor atau dimana aja kalo kita ngeliat orang dengan pakaian yang gak disetrika atau lusuh pasti hal pertama yang terlintas adalah malas "dih ngurus pakaian sendiri aja malas apalagi ngurus yang lain" nah itulah contoh hal pertama yang ada dipikiran orang saat melihat pakaian yang kurang rapi. Sebaliknya mari kita mereviwe ingatan kita tentang penampilan seorang customer service sebuah bank misalnya atau public relation sebuah perusahaan jasa besar, hmmmm anda pasti langsung luluh dan bahkan “manut” dan tertaklukkan kan.... ketika dia menjelaskan tentang aneka produk perusahaan dia? 

Memang sih seseorang tak selamanya juga bisa dinilai cuma dari cara bicara dan pakaiannya, terlebih ada banyak juga success story yang berpenampilan “acakadut”, tapi gak ada salahnya untuk menjaga kerapian kita kan? Minimal untuk tidak dikatan bahwa kita ini sudah miskin gagal tapi sombong hanya karena berpenampilan semau gue tanpa melihat tempatnya. 

Jadi mulailah menghargai diri sendiri dengan menjaga kerapian kita, sehingga dengan begitu dapat mengirim energy positif bagi lawan bicara dan lingkungan sekitar yang melihat. Tak perlu mewah untuk terlihat cantik dan gagah, hanya perlu rapi untuk menjadikan kita seseorang yang elegan dan tak perlu pengawal untuk menjaga kita, selagi kita masih bisa menjaga lisan kita. 


Agama ageming ati: Dalam pengertian ini bukan apa yang tercantum di KTP, melainkan lebih dari itu, yakni nilai-nilai yang mengatur sendi-sendi kehidupan manusia. Karenanya agama sering disebut sebagai ageming ati. Jika kita muslim maka sikap kita harus mencerminkan bahwa kita seorang muslim, dengan segalanya yang menandakan bahwa memang benar kita seorang muslim.

Jangan sampai, kita pakai pakaian tapi tetap bertingkah laku seperti orang telanjang, atau orang melihat kita tidak ada bedanya dengan telanjang, atau kita dengan tanpa sadar bertingkah laku konyol sehingga menelanjangi diri sendiri. Ageming ati dengan kata lain membuat perubahan yang medasar terkait tingkah laku dan tindakan yang baik, sehingga kita dengan sendirinya mempunyai wibawa dan kehormatan, marwah diri kita terjaga sehingga tanpa harus dibuat-buat pun kemudian pihak lain akan menghormati kepribadian kita dengan sendirinya.

NGONO LOH..SONTOLOYO!

Tuesday, July 31, 2018

KETIKA DEMOKRAT BERSIKAP DAN MEMILIH


PENTINGNYA MENEGUHKAN KEMBALI KOMITMEN KERAKYATAN KITA YANG TERKOYAK DIBANDINGKAN BAGI-BAGI ROTI KEKUASAAN

Diawali dengan perjalanan memenuhi undangan DPP Partai Demokrat beberapa waktu yang lalu kami bersama dengan seluruh unsur Pimpinan Partai sampai ke tingkat Kecamatan berangkat ke Jakarta guna menghadiri Rapimnas Partai Demokrat, yang diselenggarakan di Sentul Bogor. Rapimnas ini sebagaimana umumnya, adalah rapat yang diselenggarakan guna mengambil keputusan besar atas situasi sosial politik yang terus berkembang dinamis di masyarakat dan bergerak kearah yang membuat banyak pihak khawatir termasuk Partai Demokrat,  yaitu arah demokrasi yang menuju pada perpecahan bangsa. Situasi ini bila ditilik lebih dalam lagi, sudah bukan soal tentang siapa yang kalah dan siapa yang menang tetapi lebih pada “komitmen untuk melakukan  penyelamatan bangsa dari jurang kehancuran”.

Pada saat itu, selain memberi arahan tentang strategi pemenangan, Ketua umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono Bersama Komandan KOGASMA Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan; Pertama bahwa Partai Demokrat harus berada di garis terdepan dalam memperjuangkan segala apa yang menjadi problem dan kesulitan masyarakat, terutamanya masyarakat miskin dan yang termarginalkan oleh kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa. Kedua bahwa belajar dari pemilu sebelumnya dimana Partai Demokrat tidak mempunyai (mengusung) calon Presiden, nyata-nyata berdampak signifikan terhadap perolehan suara Partai secara nasional, maka diputuskan pada pemilu 2019 PD harus mengusung calon presiden sendiri dengan membangun koalisi yang berlandaskan pada etika politik dan program-program pro kerakyatan. Jujur, bahwa kami sebagai kader yang berada pada level paling bawah kepemimpinan partai ini merasa terhormat dan bangga karena dilibatkan secara langsung dalam merancang, menggagas dan memikirkan bagaimana kemudian bangsa ini diperjuangkan, dibangun secara benar dan konstitusional, bagaimana kemudian sepulang dari Rapimnas kami harus allout berjuang mempersiapkan segalanya tanpa mengenal kata menyerah.

Pada saat Rapimnas memang yang menjadi bintang dari perhelatan ini adalah AHY selaku Komandan KOGASMA dan JOKOWI sebagai Undangan VVIP dalam kapasitas Presiden. Dalam beberapa momen panggung keduanya beliau jelas terlihat saling melempar signal yang positif, dan sebagai sesama tokoh politik pada skala nasional ini tentunya pertanda baik, meskipun jujur saja hal tersebut sempat juga membuat khawatir sebagian rekan sesama kader, bahkan beberapa diantaranya dengan tegas menunjukkan sikap, protes keras dengan cara mereka masing-masing, disitulah terlihat betapa kuat figur kepemimpinan Ketua Umum menakhodai partai ini, sebab hal yang demikian itu tidak lantas kemudian membuat perahu ini retak apalagi terbelah.  

Pada tanggal 11 Maret 2018 ada kejutan yang luar biasa diarena Rapimnas, dimana pada acara penutupan, AHY selaku Komandan KOGASMA menyampaikan pidato politiknya dengan Thema “DEMOKRAT S14P!”. Menyimak seluruh apa yang disampaikan oleh beliau secara runtut dan gamblang menujukkan bahwa tidak salah AHY adalah asset sekaligus kader terbaik yang dimiliki oleh partai ini, disaat ini dan kelak nanti, pantas rasanya bila aku katakan bahwa masa depan gemilang partai ini kelak kemudian ada di pundak beliau dengan mentor politik terbaik yaitu Ketua Umum SBY. Dalam pidatonya yang disampaikan tanpa teks tersebut dengan tulus terlihat AHY memberikan apresiasi yang tinggi kepada pemerintah atas capaian yang sudah diraih, selain mengkritisi secara terukur atas apa saja yang menurut Demokrat dan AHY masih kurang.

Pasca Rapimnas Partai Demokrat pada saat diselenggarakannya Rakerda DPD PD DKI Jakarta AHY kembali menyampaikan pidato politiknya secara terbuka, dimana sebelumnya pidato ini tertunda oleh karena peristiwa bom di kota Surabaya. Menyimak secara utuh pidato yang disampaikan menunjukkan konsistensi dan posisi politik Demokrat dan AHY yang berada diluar pemerintahan sebagai kekuatan politik penyeimbang. Pada kesempatan ini pula AHY mengkritisi secara khusus tentang realisasi program pemerintahan Jokowi yakni revolusi mental, program yang nyata-nyata tidak berjalan sebagaimana semula digadang-gadang dan diharapkan serta dinanti oleh semua pihak dan elemen bangsa. Kritik yang disampaikan ini tentunya membuat kekuatan politik lain diseberang menjadi meradang, tetapi sepertinya hal tersebut tidak merubah sedikitpun niatan dan komitmen Demokrat untuk terus secara konsisten bersama rakyat yang kian tak berdaya oleh karena kebijakan yang tidak berpihak.

Medio, 24 Juli 2018, bertempat di Kediaman Pribadi SBY di Mega Kuningan, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto melakukan kunjungan. Sejalan meningkatnya eskalasi menuju Pilpres 2019, kunjungan ini tentunya bukanlah kunjungan biasa. Kunjungan ini juga membuat seantero negeri berdebar menunggu hasil apa yang akan disampaikan oleh kedua Pimpinan partai besar tersebut. Seusai melakukan pertemuan tertutup SBY dan PS menyampaikan bahwa Keduanya Beliau telah menyepakati kesamaan visi dan misi sebagai dasar untuk membangun koalisi dalam Pilpres 2019. Meskipun disaat sesi tanya-jawab, menjawab pertanyaan wartawan PS sempat mengatakan “why not”, tetapi kemudian SBY menegaskan bahwa pertemuan ini diadakan tidak untuk membahas nama calon wakil presiden bagi PS. Artinya bahwa kedua tokoh bangsa ini bertemu tidak karena telah mengantongi nama siapapun sebagai cawapres, tetapi tiada lain selain daripada “bermufakat tentang cara terbaik menyelamatkan rakyat dan bangsa dari jurang kemunduran demokrasi dan bergerak menuju kehidupan yang lebih baik dengan tetap mengedepankan politik yang beretika tanpa issue SARA”. Hanya itu kah? Tentu ini pertanyaan yang wajar, terlebih oleh para penyembah “liberalisme.” Apakah benar SBY tidak menyodor-nyodorkan putranya? Sebenarnya adalah hak mereka untuk bertanya dan curiga, tetapi menjadi aneh ketika melalui banyak media mereka lantas bernyanyi nyinyir berusaha kuat menyerang SBY, seoalah-olah apa yang disampaikan oleh SBY tidaklah benar adanya. Mereka para nyinyirin mania seolah meragukan Komitmen Kebangsaan yang dimiliki oleh SBY dan PS. Bahkan lebih prihatinnya lagi terlihat ada upaya yang jahat untuk menyerang SBY dan Demokrat dengan menyebar mimpi dan issue menggunakan narasi politik dinasti.

Medio, 25 Juli 2018, masih dari Mega Kuningan sehari setelah kedatangan PS, SBY kembali didatangi oleh tokoh penting nasional yaitu Zulkifli Hasan, Ketua umum Partai Amanat Nasional, setelah melakukan pembicaraan empat mata selama beberapa saat keduanya beliau keluar ruangan memberikan keterangan didepan media, Zulkifli Hasan sama halnya dengan Prabowo mengatakan bahwa pertemuan tersebut lebih bicara tentang situasi nasional sebagai landasan dibangunnya sebuah koalisi, dan kedua tokoh tersebut sepakat serta sependapat bahwa situasi saat ini harus diperbaiki bersama, "Saya garis bawahi betul pernyataan pak SBY tadi memang kami tidak bicara capres-cawapres. Yang kedua kami membahas situasi kekinian mengenai NKRI tercinta," artinya bahwa lagi-lagi kaum dan generasi nyinyir harus kecewa bahkan lebih besar lagi. Terlebih setelah Ketum PAN mohon diri, pada kesempatan yang sama SBY memberikan keterangan pada media, menjawab hal yang sebelumnya menurut beliau tidak mungkin disampaikan karena dipandang  kurang tepat, sebab ada pihak lain diantaranya calon Presiden dan Ketum Partai PAN. Sungguh semua apa yang disampaikan oleh SBY pada kesempatan ini membuat kami menjadi semakin “GILA” mencintai beliau dan partai ini, sebab disaat-saat genting seperti sekarang beliau mampu menempatkan diri dan partai ini dibawah kepentingan Bangsa dan Negara yang pernah beliau pimpin dengan gemilang. SBY dengan gamblang dan tegas menjawab semua tanya yang diajukan oleh media, yang diantaranya mempertegas bahwa sebagai tokoh politik adalah pantang dan bukan watak beliau SBY untuk menyodor-nyodorkan putranya yang notabena saat ini adalah salah satu kader terbaik yang dimiliki oleh Demokrat.

Medio, 30 Juli 2018, SBY melakukan kunjungan balasan ke kediaman Prabowo Subianto. Pada kesempatan ini setelah melakukan pertemuan empat mata keduanya hadir dihadapan media menyampaikan pernyataannya bahwa pada intinya PS dan SBY telah sama bersepakat untuk berkoalisi pada Pilpres 2019, ini tentu bisa tercapai atas kerja keras tim kecil yang ada dibelakang beliau berdua, dan yang perlu dicatat bahwa kerja keras tim ini telah memberikan gambaran yang dapat di simpulkan oleh publik dari keterangan yang disampaikan oleh masing-masing KETUM Partai ini, bahwa sesunguhnya mereka semua sejatinya adalah pemenang sebelum pertandingan dimulai. Ini kami nyatakan karena dari statemennya SBY dan PS sama sekali tidak menyinggung tentang nama cawapres sebagaimana dipikirkan oleh lawan politik dan kaum nyinyirin.  Justru yang kembali hangat menyirami semangat mereka adalah komitmen untuk memperjuangkan sekitar 100 juta rakyat miskin yang akan di komandani oleh Prabowo yang diawali sebagai calon presiden. Artinya bahwa SBY, PS dan semua tim telah berhasil melepaskan diri dari kepentingan sempit masing-masing kelompok dan pribadi. "Mengenai calon wakil presiden, Pak SBY juga ingin menegaskan kembali, sekali lagi bahwa Presiden SBY tidak menuntut atas nama Partai Demokrat satu nama tertentu. Sama sekali beliau menyampaikan, menyerahkan kepada saya jika saya menjadi calon presiden dari koalisi ini," kata Prabowo. Lebih lanjut PS mengatakan, pernyataan SBY itu sebuah kehormatan. Tentang nama cawapres yang akan diusung koalisi ini, nantinya akan dilakukan pertemuan-pertemuan intensif ke depan. "Apa pun nanti yang menjadi landasan perjuangan kita, beliau (SBY) tekankan harus mengutamakan kepentingan rakyat," pungkasnya. Dengan demikian Sah Partai Demokrat berkoalisi dengan Gerindra.

Medio, 30 Juli 2018, SBY hari ini melanjutkan langkah dan silaturahmi dengan seluruh jajaran Pimpinan PKS, dari keterangannya jelas bahwa SBY tetap mengedepankan moral politik yang baik bagi kemajuan demokrasi di negri ini, secara terang benderang  SBY mengatakan bahwa mereka lebih mengedepankan kesamaan platform perjuangan dalam koalisi dan intinya bahwa PKS sependapat tetap berada dalam koalisi yang sebelumnya telah dibangun bersama Gerindra. Meskipun dalam keterangannya PKS masih “mengutarakan” dalam pesan pendek yang beliau Presiden PKS Sohibul Iman sampaikan tentang hasil ijtimak Ulama, dan itu disikapi secara arif dan bijak oleh SBY bahkan dalam kesempatan tersebut SBY juga meluruskan persepsi masyarakat mengenai ideologi PKS. SBY menjelaskan PKS adalah partai berbasis Islam yang demokratis. "Banyak yang salah persepsi tentang PKS. PKS ini partai Islam, tapi amanah menghormati demokrasi kompatibel dengan sistem yang berlaku di negeri tercinta ini dan oleh karena itulah kami dulu bersama-sama kami juga tidak menginginkan adanya tindakan-tindakan yang radikal dari siapa pun dari kelompok mana pun," ujar SBY. Dalam kesempatan ini, SBY menyinggung soal cawapres bagi Prabowo Subianto. SBY berharap Prabowo bijak dalam memilih cawapres. "Saya yakin Pak Prabowo dengan kearifan dengan wisdom-wisdom, dengan pertimbangan yang bijaksana akan memilih yang paling tepat mendampingi, karena menurut kita bukan hanya harus menang dalam pilpres, tapi kalau terpilih amanah dia mampu memimpin dan Indonesia menjadi lebih baik 5 tahun mendatang," pungkasnya.  Lagi-lagi kaum nyinyir harus menanggung kecewa karena SBY sama sekali tidak menyinggung tentang peluang kadernya untuk menjadi wakil presiden PS yang akan disung oleh koalisi.

Intinya yang ingiin kami sampaikan bahwa dari seluruh proses, dinamika dan dialektika politik yang diperankan oleh SBY dan Demokrat terbukti semuanya tetap mengedepankan kepentingan Rakyat dan Bangsa diatas kepentingan kelompok dan golongan. SBY telah menyelesaikan apa yang menjadi kewajibannya sebagai Ketua Umum Partai secara terhormat dan bermartabat, SBY secara elegant telah menujukkan kelas kepemimpinan beliau sebagai kingmaker yang dimiliki oleh bangsa ini, dengan mengambil tugas sebagai jarum yang selalu menyatukan, SBY dan Demokrat telah berhasil keluar sebagai pemenang sebelum pertandingan dimulai. Adapun tentang kader terbaik yang dimiliki oleh Demokrat biarlah publik dan tokoh-tokoh koalisi yang menilai dan menimbangnya kemudian secara arif dan bijak untuk kepentingan rakyat dan bangsa. 

Selebihnya setelah malam ini Partai Demokrat dengan seluruh jajaran dan kader dapat fokus pada strategi pemengangan dengan mempersiapkan seluruh stekholder untuk "Ayo Bung Merebut Kembali”.

DEMOKRAT S14P!!


Thursday, July 26, 2018

CALON PRESIDEN DARI SISI YANG LAIN

Jauh sebelum hari ini, masyarakat dahulu hidup bersahaja dan penuh makna ditengah berbagai peristiwa dan simbol. Simbol-simbol itu merupakan perlambang atas berbagai hal menyangkut hidup dan kehidupan, menyatu erat dalam semangat orang yang mampu serta mengerti akan makna filosofi. Sejalan dengan budaya yang luhur dan luhung, hal ini terus berlangsung hingga sekarang terutama di daerah-daerah yang memang peninggalan sejarah budayanya masih terpelihara baik dengan keberadaan langgengnya simbol pusat kekuasaan budaya seperti istana kesultanan dan lain sejenis.

Dalam peta tokoh nasional kita ada sedikit dari mereka yang memahami benar simbol-simbol filosofi tersebut, baik dalam kesehariannya atau minimal pada momen-momen penting sebuah peristiwa. Diantara tokoh yang sedikit itu sebut saja Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa SBY termasuk Ibu Ani Yudhoyono termasuk juga anggota keluarga, sadar atau tidak, menurut dan bagi banyak pengrajin dan pedagang batik adalah salah satu trend setter batik populer yang ada dan paling laris di tanah air. Seperti halnya koleksi baju-baju batik yang kerap dikenakan oleh Agus Harimurti Yudhoyono yang ternyata oleh pengrajin, pedagang dan penggemar kerap dinamakan batik AHY (ini juga terjadi di banyak aplikasi online yang menjual aneka motif dan corak batik menyebut jenis corak batik dagangan mereka). Jadi tidaklah heran sebagaimana aku tuliskan diatas sebab memang di jaman Pak SBY lah batik diakui dan dicatatkan sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia oleh UNESCO. 

Berbeda dengan Pak SBY dan AHY, Parabowo Subianto juga adalah salah satu dari sedikit tokoh nasional yang sangat mencintai batik. Bahkan menjadi terlihat sangat istimewa oleh sebab PS dalam kesehariannya tidaklah mengenal banyak model dalam corak busana (sangat jarang mengenakan batik). Sehingga kapan beliau berbusana "dinas" dengan pada momentum apa beliau mengenakan busana yang berbeda, menunjukkan bahwa Prabowo ternyata sangat dan sangat kuat memegang filosofi dan makna dibalik batik yang ia kenakan. Meskipun ada modifikasi tangan-tangan terampil pengrajinnya namun pakem atau induk dari motif batik yang beliau pilih untuk dikenakan sangat relevan dan konsisten dalam menyampaikan pesan it's me nya (bahasa opo kui.....koyo tiru kae wae....ngomong jerman ra mudeng karep, metu prancis hahahahah). 

Seperti foto yang aku unggah berikut, adalah momentum dimana Pak Prabowo dan Pak SBY bertemu dalam rangka membahas berbagai persoalan nasional kebangsaan kita di kediaman Pak SBY di Mega Kuningan beberapa hari yang lalu, pembicaraan ini tentunya sangatlah penting, karena materi pembicaraannya adalah tentang perihal prinsip persoalan-persoalan rakyat dan bangsa yang menjadi landasan didirikannya sebuah komitmen untuk berkoalisi menuju pemilihan presiden. Sehingga dari sini kemudian kelak secara jelas program-program dan kebijakan yang berpihak pada keutamaan kepentingan rakyat adalah diatas segalanya.
Kembali ke batik, kedua beliau terlihat keren dan gagah serta kompak menggunakan batik dengan nuansa warna yang sama, perbedaannya adalah pada corak dan makna filosofis yang menyertainya.
Karena penasaran, akhirnya aku search googling googling mister google dan ketemu juga 😆😆

Pak SBY pada momen ini ternyata menggunakan batik dengan motif SIDOMUKTI. Penasaran dengan kandungan makna filosofi batik Sidomukti? Ternyata definisi batik Sidomukti dijabarkan dari asal katanya. Sidomukti berasal dari kata "sido" yang berarti "jadi" atau menjadi atau terus menerus, dan "mukti" yang berarti "mulia" dan sejahtera. Sehingga dapat dipahami bahwa pengertian batik Sidomukti adalah menjadi mulia dan sejahtera. Motif-motif batik berawalan "sido" mengandung harapan agar keinginan dapat segera tercapai. Batik Sidomukti mengandung harapan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Kegunaan batik Sidomukti adalah dalam upacara perkawinan adat Jawa, yakni digunakan pada tahap siraman, kerikan, ijab, dan panggih. Kain batik Sidomukti juga dinamakan kain sawitan atau kain sepasang. Motif batik sidomukti mempunyai makna yang sangat filosofis. Makna tersebut menunjukkan kedalaman pemahaman terhadap unsur budaya lokal. Sampai sekarang nilai-nilai tersebut masih bertahan, sebagaimana tentunya Pak SBY memaknai pertemuan pada malam itu demikian halnya dapat dimengerti sebagaimana batik Sidomukti yang beliau kenakan. Bahwa melalui Batik Sidomukti sebagai simbol pengharapan dan doa dituangkan dalam coraknya adalah juga doa dan harapan mayoritas rakyat kebanyakan yang ada dipenjuru Nusantara.

Sebagaimana Pak SBY, Pak Prabowo pun juga pada pertemuan itu sebagai calon penganten tampil dengan busana batik yang penuh makna, untuk menunjukkan siapa beliau yang sesunguhnya, dan pada level mana kualitas dan jati diri yang melekat padanya pun dapat dilihat dari corak bati yang dikenakan yaitu corak dasar PARANG. Batik Parang adalah motif asal Jawa, dengan motif khasnya berbentuk huruf S yang menyambung dan berulang-ulang. Bentuk huruf S yang berulang tersebut memiliki alur diagonal 45°. Konon batik Parang pertama kali diciptakan oleh raja ke-3 Mataram, yaitu Raja Danang Sutawijaya. Motif Parang sendiri terinspirasi ketika Raja Sutawijaya bermeditasi, saat itu ia memperhatikan deburan ombak yang tanpa henti menabrak karang hingga berlubang-lubang. Beberapa makna yang terkandung pada batik Parang sendiri adalah kekuatan mental yang kokoh, kebijaksanaan dan keadilan, dan konsistensi dalam melakukan kebaikan dalam hidup. Khusus untuk Pak PS mengenakan batik dengan motif dasar Parang ternyata sudah menjadi kebiasaan beliau, mungkin sudah menjadi kegemaran atau bahkan lebih dalam lagi adalah pilihan jalan hidup. Ga kebayang kira-kira ada berapa banyak koleksi batik Parang dengan aneka rupa di lemari pakaian beliau?😆😆 misalo ukurane cocok nggih kulo nyuwun batik e setunggal Pak, kinten-kinten saget nopo mboten nggih!?😆😆😆😆






Akhirnya dari penampilan kedua beliau, tokoh nasional pencinta batik yang konsisten menyampaikan pesan moral, melalui makna-makna filosofis busana batik yang mereka kenakan, sesunguhnya berisikan doa, harapan dan impian mulia yang menjadi tujuan berbangsa
dan bernegara kita, aku berkeyakinan keberadaan beliau berdua adalah juga harapan, doa dan impian sebagian besar rakyat Indonesia sekarang sampai kelak kemudian nanti. AMIN.
 
(JS)

Tuesday, March 29, 2016

Istri dan Rejeki (ngerjekeni) sebab Menikah Hakekatnya Adalah Pembuka Pintu Rejeki


"Selama aku menikah dengannya selama itu pula aku banting tulang bekerja siang dan malam demi untuk menopang ekonomi rumah tangga" (seorang istri) berkata demikian kepada sahabatnya. Tetapi dia tidak pernah bilang bahwa hutang mereka yang ada dimana-mana itu kerapkali bisa mereka selesaikan karena perjuangan suami yang berhasil mendapatkan rejeki besar yang memang tidak setiap saat bisa dia dapatkan.

Sepenggal kalimat diatas adalah potret kehidupan nyata di dalam banyak rumah tangga jaman sekarang, khususnya suami atau istri yang masih belum mengerti tentang makna dan kewajiban mereka tentang ‘Rasa Bersyukur’ dalam banyak hal dan peristiwa hidup. Istri yang mendapatkan gaji lebih besar tidaklah pantas bila hal tersebut membuat isteri 'besar kepala' dan suami 'berkecil hati' dan tidak bisa menghargai suami dengan banyak mengeluh dan membuka aib suami (sama juga membuka aib rumah tangga dan memberi peluang pihak lain ikut masuk kedalamnya), malah sebaliknya yang mestinya terjadi adalah suami 'berbesar hati' dan istri 'berkecil kepala', karena rejeki yang mereka peroleh (dari tangan istri dan dipergunakan untuk menjaga kesinambungan perekenomian kelaurga) adalah sedekahnya istri bagi rumah tangga dan menjadikan amal kebaikan bagi dirinya.
Karena di dalam perkawinan bahwa rejeki bisa terjadi oleh sebab ada keluarga, bukan karena salah satu pihak semata (demikian sebaliknya bila rejekinya seret dan mampet), sebab anda tidak akan berarti apapun tanpa kehadiran mereka anggota keluarga yang lain.

Pernikahan merupakan sunnah yang diagungkan oleh Allah. Selain mencari ridha-Nya, menikah juga menjadi salah satu jalan sebagai pembuka pintu rezeki. Allah senantiasa mencukupkan rezeki pasangan yang sudah menikah, meski hanya salah satu dari keduanya yang bekerja. Dan pada kenyataannya, tidak hanya dengan bekerja saja pasangan suami istri bisa mendatangkan rezeki. Namun dengan memperbaiki akhlak serta memperbanyak berbuat baik, maka dengan mudah rezeki akan sering datang kepada sebuah keluarga.
Jika biasanya suami bertanggungjawab mencari nafkah, maka istri pun memiliki tanggungjawab lain yang tidak kalah penting. Perilaku seorang istri ternyata akan berdampak terhadap sedikit atau banyaknya rezeki yang didapatkan suami. Dengan mengenali ciri istri berikut, pasangan keluarga bisa memperbaiki rezeki yang mungkin saja tersendat selama ini.

1. Wanita yang Taat Pada Allah dan Rasul-Nya
Sebelum menikahi seorang wanita, pria haruslah mempertimbangkan ke empat faktor berikut yaitu karena (1) kecantikannya, (2) keturunannya, (3) hartanya dan (4) agamanya. Namun, dari keempat faktor tersebut faktor agama haruslah yang paling diutamakan. Akan sangat beruntung jika bisa mendapatkan keempat faktor tersebut. Jika mencari wanita dengan faktor agama tentu ia merupakan wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya itu, wanita dengan ciri ini juga akan membawa rumah tangga menuju surga dan membawa ketentraman dalam keluarga. Dengan demikian, keluarga tersebut akan bahagia, tentram, nyaman dan itulah rezeki yang sangat berharga.
Rumah tangga yang dipimpin oleh seorang imam yang sholeh dan didampingi istri sholehah tentu akan menjadikan rumah tangga tersebut mendapat berkah dari Allah SWT. Tidak cukup sampai di situ, pernikahan tersebut juga akan menghasilkan anak-anak yang sholeh dan sholehah, serta mendapatkan keridhaan serta rahmat dari Allah.
2. Wanita yang Taat Pada Suaminya
Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan menyuruh seorang isteri untuk sujud kepada suaminya (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Itulah hadist Rasullah mengenai betapa utamanya menjadi istri yang taat kepada suaminya. Menjadi istri yang sholehah haruslah mentaati perintah suaminya selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan agama.
Dengan ketaatan tersebut, maka akan membuat hati suami menjadi tenang dan damai. Itulah yang menyebabkan suami mudah dalam menjalankan kewajibannya mencari rezeki yang halal bagi keluarganya. Namun, jika seorang istri tetap ingin berkarir di luar rumah haruslah terlebih dahulu mendapatkan izin dari suaminya. Selain itu, ia juga harus mampu menjaga diri dengan baik di tempat kerja tersebut.
“Laki-laki adalah pemimpin atas wanita karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan dengan sebab sesuatu yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka wanita-wanita yang saleh adalah yang taat lagi memelihara diri di belakang suaminya sebagaimana Allah telah memelihara dirinya”. (Q.S. An Nisa : 34).
3. Wanita yang Melayani Suaminya dengan Baik
Menjadi seorang istri haruslah mengetahui apa saja tugas dan kewajibannya. Menjalankan tugas rumah tangga dan melayani suami dengan baik serta mendidik anak-anaknya merupakan tugas utama seorang istri. Istri yang sholehah selalu berusaha melayani suaminya dengan baik seperti menyiapkan sarapan, menyediakan keperluannya, memenuhi kebutuhan biologis serta menjaga perasaan suami jangan sampai terluka karena sikap istri.
Wanita yang memiliki sikap demikian akan menjadi istri kesayangan suami dan menjadi rekan yang baik dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah dan menarik hal-hal positif ke dalam rumah tangga tersebut. termasuk di dalamnya menarik rezeki yang halal bagi suaminya.

4. Wanita yang Berhias Hanya untuk Suaminya
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah” (H.R. Muslim). Wanita adalah makhluk yang suka berhias dan mempercantik diri. Akan tetapi, seorang wanita yang sholehah hanya berhias dan menampakkan perhiasannya tersebut untuk suaminya seorang. Ketika seorang istri selalu dipandang menyenangkan dan mengetahui cara membuat senang suaminya maka malaikat pun ikut berdoa agar Allah memudahkan rezeki datang kepadanya.
5. Jika Ditinggal Menjaga Kehormatan dan Harta Suami
Ketika suami keluar untuk mecari nafkah, maka kewajiban seorang istri yang ditinggalkan adalah harus mampu menjaga kehormatannya. Selain itu, ia juga harus menjaga dirinya dari tamu yang tidak pantas, membatasi keluar rumah apabila urusan tersebut tidak begitu penting. Selain itu, wanita tersebut harus bisa menjaga harta yang ditinggalkan sang suami dan mempergunakannya pada hal-hal yang bermanfaat atas izin suaminya. Wanita yang mempunyai ciri tersebut akan membuat rezeki mudah masuk ke dalam rumahnya sebagai upah dari ketaatannya kepada Allah dan kesetiaannya terhadap suami.
6. Wanita Yang Senantiasa Meminta Ridha Suami Atasnya
Ciri istri pembawa rezeki selanjutnya adalah ia yang senantiasa meminta ridha suami atasnya. Wanita dengan ciri ini tahu bagaimana cara menyenangkan hati sang suami dan bisa menjaga sikap serta prilakunya agar tidak menyinggung serta melukai perasaan suaminya tersebut. Ia selalu berusaha agar suaminya tidak pernah marah terhadapnya. Ia tidak akan tidur dalam keadaan marah atau meninggalkan suami dalam keadaan marah sampai mendapatkan maafnya. Mengajak suami bercanda juga bisa membuat suami senang karena dapat menceriakan perkawinan.
Istri yang demikian itu merupakan istri yang menjadi penghuni surga, Hadist Rasulullah ”Maukah kalian kuberitahu isteri-isteri yang menjadi penghuni surga yaitu isteri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya, dimana jika suaminya marah dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata ” Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha” (H.R.An Nasai). Isteri seperti ini adalah isteri yang dimudahkan rezekinya melalui tangan suaminya karena amalan dan kesetiaan pada suaminya,
7. Wanita yang Menerima Pemberian Suami Dengan Ikhlas
Ciri istri pembawa rezeki selanjutnya adalah ia yang tidak pernah mengeluh pemberian dari suaminya. Wanita ini selalu menerima dengan ikhlas serta menghargai apapun yang diberikan suami kepadanya. Ia selalu bersyukur atas apa yang diperoleh suaminya meskipun hanya sedikit. Wanita yang senantiasa bersyukur dan ikhlas ini rezekinya senantiasa akan bertambah baik kuantitas maupun keberkahan yang akan diberikan Allah kepadanya ataupun melalui suaminya.
8. Wanita yang Bisa Menjadi Partner Meraih Ridha Allah
Istri yang menjadikan rumah tangganya sebagai lahan ibadah dan pengabdian diri kepada Allah bisa menjadi rekan diskusi yang berimbang bagi suaminya. Tidak hanya itu, ia juga bisa melakukan koreksi dan menyampaikannya dengan lembut kepada suaminya. Selain itu, wanita yang memiliki ciri ini juga bisa menjadi motivator suami untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Itulah yang menyebabkan munculnya kalimat “di balik pria yang sukses ada wanita hebat di belakangnya”.
9. Wanita yang Tak Pernah Putus Doa Untuk Suaminya
Ciri wanita pembawa rezeki yang terakhir adalah wanita yang selalu menerima takdir Allah namun tetap berusaha dengan mendoakan suami dan anak-anaknya agar sukses di dunia dan akhirat. Rutinitas berdoa tidak pernah terputus dari wanita ini, menjadi penghias bibir setelah menjalankan ibadah sholat. Wanita seperti inilah yang akan mendatangkan rezeki kepada suaminya karena selalu melibatkan Allah pada setiap langkah suaminya lewat doa yang diucapkan setiap hari.

Itulah 9 ciri istri pembawa rezeki bagi suaminya. Maka beruntunglah lelaki yang mendapatkan istri dengan ciri-ciri tersebut. Akan tetapi, apabila belum mendapatkan istri yang demikian adalah kewajiban suami untuk mendidik istrinya agar selalu berada di jalan Allah serta membawa rumah tangga tersebut ke surga-Nya.

Konon, membahagiakan istri mampu jadi salah satu pembuka pintu rezeki yang paling lebar buat keluarga, benarkah? Apa hubungannya kelancaran rezeki dgn kebahagiaan istri? ini rahasianya…

1. Mood baik istri mampu menular terhadap seluruhnya anggota keluarga. Membahagiakan istri, sama dengan membahagiakan seluruhnya anggota keluarga. Dikala istri menjalani hidup bersama dengan pemikiran yang positif, maka sama artinya seluruh anggota keluarga menjalani hidup dengan positif.
2. Istri yang bahagia dan senantiasa bersyukur dapat menarik hal-hal yang positif ke dalam rumah tangga, karena sesungguhnya Allah memberikan lebih banyak terhadap mereka yang bersyukur.
3. Istri yang bahagia bakal menjadi partner yang baik untuk suami mencari rezeki ataupun jadi ruang pulang yang menenangkan sesudah suami mencari rezeki. Akhirnya, suami bakal kembali semangat mencari rezeki keesokan harinya. Istri yang bahagia bersama suaminya dapat senantiasa mensupport suaminya dalam kondisi apapun, maka suami tak sempat kehilangan dukungan walau dikala paling susah sekalipun. Dengan begini, suami sanggup miliki semangat buat senantiasa bangkit lagi tiap-tiap menghadapi kesusahan.
4. Istri yang bahagia akan diandalkan buat membina anak-anak jadi anak yang bahagia dan bermanfaat. Rezeki dapat datang darimana saja, termasuk juga dari anak. Rezeki bukan cuma berupa duit, tetapi juga berupa anak-anak sholeh dan sholehah yang menemui orangtuanya dengan wajah bahagia tiap-tiap hari.

Nah, itulah alasannya mengapa istri yang bahagia sanggup memperngaruhi kelancaran rezeki. Kebahagiaan istri sanggup menular terhadap kebahagiaan suami dan seluruh anggota keluarga, yang kemudian membuat suami mampu mempunyai energi positif untuk bekerja tambah baik lagi dalam mencari rezeki.
Mudah-mudahan pernikahan sahabat semua menjadi pernikahan sakinah mawaddah warahmah dan dikaruniai anak-anak yang shalih shalihah. Dan semoga sahabat tidak pernah terucap sekalipun di dalam hati apalagi kata-kata tentang penyesalan memilihnya sebagai suami ataupun istri, hanya karena kondisinya saat ini (terlebih setelah mempunyai anak satu dua tiga apalagi empat) karena itu tidak akan menjadikan keadaan dan rejeki menjadi semakin baik, sebaliknya hanya akan mempercepat kita terhantar pada kesulitan yang lebih besar lagi.

Slamat malam dan Slamat menikmati hidup.
Salam.

Saturday, March 26, 2016

"Gus Mus: Kurang Ajare Nemen Banget!"


Tulisan berikut ini sebenarnya hanya repost dari beritateratas.com, kenapa aku repost? Alasan Pertama; adalah karena aku memang sangat mengagumi Beliau Gus Mus, baik sebagai seniman terlebih sebagai Ulama. Kedua; adalah karena aku sangat suka/setuju dengan buah pikiran beliau yang ditulis oleh media tersebut.

Rais Aam PBNU KH. A. Mustofa Bisri mengaku prihatin dengan sejumlah kelompok yang kerap memanfaatkan agama demi kepuasan nafsu politiknya. Selain mencoreng citra agama, sikap ini merupakan cermin ketidakmampuan mengenali Tuhannya.

Kiai yang akrab dipanggil Gus Mus ini berpendapat, mengikutsertakan agama untuk kepentingan tertentu, seperti kampanye politik adalah tindakan berlebihan.
“Gusti Allah diajak kampanye. Kebangetan tenan, kurang ajare nemen banget. Gusti Allah kok diajak kampanye. kalau gak bisa berpolitik, ya nggak usah berpolitik lah” tegas  Gus Mus
Menurutnya, perilaku keberagamaan harus ditunjukkan secara sederhana dan bijaksana. Tak cukup mengandalkan semangat mencintai Allah, tanpa disertai pengenalan secara mendalam tentang Allah.

”Kita lihat kembali, Allah itu apa? Jangan-jangan kita Allahu Akbar Allahu Akbar tapi nggak tahu Allah itu segede apa. Atau jangan-jangan kita selalu bilang Allahu Akbar tapi pikiran kita sama sekali tidak ke Allah” tegas kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini.

Bagi Gus Mus, mencintai Allah tanpa mengenalinya hanya berbuntut pengagungan pendapat sendiri. Akibatnya, yang bersangkutan menganggap perlu mengadakan pembelaan kepada Tuhan, termasuk dengan jalan kekerasan.
Lha wong agama kok dibuat ngerusak. Itu kan aneh bin ajaib. Gusti Allah itu ar-Rahman, ar-Rahim, al-Lathif. Lha kok ngerusakan, iku piye? tuturnya.






Thursday, March 10, 2016

Among Tani Sebagai Kesatuan Hati dan Integritas

Siang itu mobil bututku meluncur santai dikemacetan Kota Malang menuju kearah utara, aku hendak menghabiskan waktu dengan menghirup udara segar di Kota Batu. Meskipun jam sudah menjelang pukul 12.00, tetapi karena masih dimusim  hujan cuacanya tetap sejuk dan tidak terlalu panas. Sengaja aku tidak menggunakan AC dengan membuka jendela mobil, aku menyulut 234 sahabat setia kegemaranku. Jalanan ramai lancar, baik yang menuju kearah Kota Batu dan sebaliknya. Memasuki wilayah Kota Batu aku tolah-toleh kesana kemari, mobilku melaju perlahan, sambil nyetir aku coba amati, bahwa ternyata kota ini sudah banyak berubah, kemajuan perekonomian dan pembangunan seiring-sejalan, jelas tampak disisi kiri dan kanan jalan menuju ke arah kota. Demikian halnya warung, rumah makan, restauran coffe shop, pusat oleh-oleh (tidak ada yang cabang oleh-oleh) banyak berdiri tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan. Padahal seingatku bahwa di malam tahun 2016 yang lalu adalah saat terakhir aku mengunjungi kota ini bersama keluarga situasinya masih belum begini amat (mungkin karena waktu itu malam hari).

Memang perkembangan kota batu sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler di Jawa Timur adalah berkah bagi sebagian besar wilayah Malang Raya, ini bisa dilihat di Kota Malang saja, bahwa petumbuhan hotel dan home stay di Kota Malang kini sungguh sangat luar biasa, banyak hotel baru dan home stay menjadi salah satu usaha rumahan yang bagus untuk saat ini, dan sekarang ini masih banyak lagi yang sedang dalam proses pembangunan, denger-denger katanya masih banyak investor dibidang perhotelan yang mencari lokasi strategis untuk didirikan hotel lagi, hmmmmm berkat Kota Batu wajah Malang Raya kini sebagian besar banyak berubah, dan sejalan itu Pemerintah Daerah-nyapun terus berbenah seakan tak mau kehilangan momentum untuk melakukan yang terbaik di eranya masing-masing, kecuali pemerintah daerah Kabupaten Malang, yang meskipun pemerintahnya mendapatkan banyak ragam sertifikat dan predikat akan tetapi pembangunan ekonomi, sosial dan kemasyarakatannya masih sangat jauh tertinggal, ini terbaca dari masih tingginya angka pengiriman tenaga kerja keluar negeri, tingginya angka perceraian dan masih banyaknya anak usia sekolah yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, terutama karena hambatan perekonomian (bahkan ada kecamatan yang tidak mempunyai sekolah tingkat SLTA, yang kadang kalupun ada itu adalah sekolah swasta dibawah lembaga dan yayasan yang keuangannya lebih sering kembang kempis kayak jantungku dibandingkan jantung para pejabatnya mungkin heheheh), serta sedikitnya lapangan kerja bagi angkatan kerja yang kian hari terus bertambah. Disi lain dikenal bahwa wilayah Kabupaten Malang adalah yang terluas diseluruh Jawa Timur dan memiliki potensi wisata yang sangat besar dan luar biasa, khususnya wisata bahari dengan pantai yang indah sepanjang pesisir yang berhadapan langsung dengan pantai selatan Pulau Jawa. Interkoneksi dari satu obyek wisata ke obyek wisata yang lain sangatlah memprihatinkan, jalan makadam, bahkan ada yang sama sekali tidak ada jalan selain jalan tanah tak berbatu, yang lebih membuat prihatin adalah masih banyaknya desa dan kampung sepanjang pesisir pantai yang belum tersentuh pembangunan dan kemajuan (jikapun sedikit ada kemajuan yang baik itu semata-mata karena pembangunan yang digagas oleh Pemprov Jatim yakni Jalan Lintas Selatan, yang membentang dari Kabupaten Blitar sampai ke Kabupaten Banyuwangi, yang pembangunannya masih terus berlangsung secara bertahap), perkampungan miskin yang gelap dan jauh dari teknologi. Belum lagi dengan sangat minimnya ketersediaan fasilitas wisata, sebagaimana layaknya obyek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan (masa ada pantai yang banyak pengunjungnya namun tidak mempunyai toilet dan kamar ganti), jadi jelas terlihat bahwa pemerintahan dikawasan ini sepertinya gagal menggaet investor masuk melakukan investasi  untuk dapat bersama-sama dengan seluruh elemen yang ada membangun kawasan yang begitu luas nan indah itu, yang tujuan utamanya adalah untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Malang.


Kembali dengan perjalananku; di Kota Batu aku berhenti dijalan utama menuju ke balai kota, disalah satu warung pecel yang dahulu menjadi langgananku, selesai menikmati sepiring makan siang, aku meneruskan perjalan terus naik kearah Balai Kota Batu, dan ketika sudah melewati Hotel Kartika Wijaya Batu betapa aku terpana. Untuk menjawab rasa penasaranku aku bergegas mencari tempat parkir, sterusnya menelusuri trotoar dan menemukan tempat duduk yang adem. Dihadapanku diseberang jalan, tanah luas yang dahulu tempat berdiri kokoh konstruksi hotel yang gagal dibangun akibat krismon pada tahun  1998-1999, kini dilokasi yang sama berdiri bangunan megah, bangunan ini tak lain adalah Kantor Walikota Batu yang diberi nama “Pendopo Among Tani” demikian tertulis disana. Membaca papan nama gedung ini membuat aku tersenyum, karena Kota Batu kini memang sudah sangat jauh berbeda dengan dahulu. Pemkot Batu dibawah Pimpinan Eddy Rumpoko sebagai Walikota kini benar-benar terlihat bersinar dan kinclong dalam segala aspek kehidupannya. Baik itu kehidupan ekonomi, sosial, budaya, agama, pendidikan, kehidupan politik  dan demokrasinya dan seterusnya, kemajuan disegala aspek inilah yang membuat setiap orang yang hidup dan berada di kota ini terlihat sehat dan selalu menyapa ramah kepada siapa saja.

Keberadaan Pendopo Among Tani ini sepertinya sebuah monumen yang meneguhkan integritas serta komitmen yang dimiliki oleh sang Walikota dan masyarakatnya, meneguhkan keberadaan Kota Batu sebagai sebuah kota kecil dengan masyarakat tani yang hidupnya kini lebih bersinar yang telah berhasil juga “berprestasi” dalam segala aspek kehidupannya. Keberadaan gedung pemerintahan ini terlihat digagas sedemikian rupa untuk benar-benar bisa dimiliki oleh rakyat mBatu, tanpa pagar dan sekat yang cenderung melambangkan keangkuhan kekuasaan, taman yang luas ditata indah, tempat bermain yang indah dan sehat bagi anak-anak, ditambah dengan Masjid yang sangat representatif untuk dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Kota Wisata Batu untuk menunaikan segala urusannya masing-masing dengan Allah. Kesemuanya itu menyadarkanku bahwa 8 tahun Kota Batu bekerja keras siang dan malam, bahu membahu dibawah kepemimpinan Eddy Rumpoko,  dengan PAD dan APBD yang pas-pasan kini telah membuahkan hasil yang nyata. Menghadirkan mimpi dan harapan senyata-nyatanya dalam keseharian rakyat Batu. Konon  berdirinya Pendopo ini adalah murni dibiayai oleh APBD Kota Batu selama hampir 5 tahun anggaran,  sampai saat ini tidak ada sedikitpun bantuan dari APBD Prov. Jatim dan APBN yang masuk dan menempel dibagian manapun di gedung ini. Artinya bahwa gedung ini bisa berdiri megah sekali lagi adalah karena dan merupakan wujud nyata dari kristalisasi keringat seluruh rakyat mBatu.
Sehingga tidak berlebihan jika oleh Walikota nya, wong mBatu kini diberikan penghargaan sekaligus kehormatan dengan memberi nama Pendopo Among Tani itu tadi. Demikian kira-kira imajinasiku membawaku ngelantur terkait lahir dan diberinya gedung ini nama Pendopo Among Tani, yah mudah-mudahan suatu saat aku berkesempatan untuk mengkonformasikannya kepada Beliau Pak Wali. Tak terasa ketertegunanku disapa oleh angin senja yang dingin, segera aku beranjak menuju kearah payung untuk menikmati secangkir kopi dan jagung bakar rasa nano-nano sambil menikmati kota yang terus bersolek menuju Kota Wisata Batu sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Upsss...ada yang lupa, menatap gedung ini dan gedung-gedung pemerintahan di Kota Batu pada umumnya, jangan harap sahabat bisa menemukan warna yang mencerminkan sikap dan pandangan politik Sang Walikota, anda akan kecewa karena tak akan pernah menemukannya; dalam banyanganku seakan Beliau berkata gedung ini dan diriku sepenuhnya milik wong mBatu.





Salam

Sunday, March 6, 2016

Kandidat Calon Gubernur

pilgub dki
Pemilihan langsung, serentak Gubernur dan banyak Kepala Daerah di tahun 2017 sebenarnya masih lama (sekarang aja masih tahun 2016 bulan Maret awal),  namun hangatnya sudah mulai terasa. Untuk daerah yang cukup terkenal atau yang menjadi perhatian media dan seterusnya masyarakat luas, dikarenakan karena hampir seluruh media (lapisan masyarakat) nasional memberitakannya, sebenarnya sangat mudah bagi kita untuk menakar popularitas (awal) mereka, dan termasuk elektabilitasnya (mungkin) kemudian, dapat diprediksi oleh kita tanpa repot berdebat dan menunggu paparan lembaga survei.
Seperti DKI Jakarta misalnya; bahwa hampir seluruh media nasional, baik cetak maupun elektronik, setiap hari pasti memuat berita tentang Ahok, mulai dari A-Z minimal satu berita setiap media setiap hari pasti memuatnya dalam pemberitaan mereka, apakah ini karena pesanan, ataukah karena Ahok dan seluruh kiprahnya memang mampu menaikkan rating media tersebut, dibaca, didengar dan bahkan di klick oleh publik melalui media sosial yang hampir seluruh masyarakat Jakarta, bahkan Indonesia dapat dengan mudah mendapatkannya (digenggaman), entahlah tetapi yang jelas bahwa untuk menakar popularitas sang kandidat kini tidaklah sulit. Sebagaimana gadget halaman yang saya telah share diatas postingan ini, sahabat semua dapat melihat sejak bulan Januari sampai dengan Maret pada tanggal sekarang ini dalam hitungan seratus, diantara semua nama yang di bandingkan, hanya Ahok lah satu-satunya figur populer, yang dari segi pemberitaan paling banyak dicari oleh masyarakat melalui media Google, wabil khusus mesin pencari Google Chrome, padahal nama Ahok telah dibandingkan dengan orang-orang yang menurut saya baik dan cukup sering diberitakan, seperti Yusril, Sandiago, Habib Rizieq dengan FPInya. Akan tetapi sebagaimana hasil diatas ternyata masyarakat DKI Jakarta dan Indonesia pada umumnya sangat tidak ingin tahu tentang apa-apapun dan siapapun terkecuali Ahok. Tentu kalo dilihat dari berbagai macam teory survey dan polling, bahwa hasil ini pasti disclaimer, akan tetapi demikianlah adanya menurut Trends Google per hari ini.

Saya sih tidak mendukung siapa-siapa dan toh bukan warga Jakarta,  akan tetapi saya ingin berpesan bahwa untuk menjadi pemimpin itu memang sepertinya tidak setiap orang punya makom disitu, dan urusan makom ini tidak akan pernah tertukar antara satu orang dengan lainnya, sehingga saran saja; jika masih memungkin, tidak usah merasa malu untuk yang lainnya selain Ahok, lebih baik konsentrasi dengan profesi masing-masing dimana semuanya sudah merupakan ahlinya, menjadi negarawan, pemikir dan penyeimbang secara terukur juga adalah kontribusi yang positif bagi kemajuan masyarakat, pemerintahan, negara dan bangsa. Saran ini maksudnya sepanjang bisa, kalo tidak ya sudah diteruskan saja tapi dengan tetap menjaga tata tertib di meja makan.

google.com or senggolbacok1.co.id.

Saturday, February 20, 2016

Smakin Kita menJadi Manusia (!?)

dekadensi moral begitu kentara dan sangat terasa menyapa dan menyentuh kita semua dalam berbagai aspek kehidupan, kemajuan teknoligi informasi dapat membantu kita menemukan kebenaran yang sangat mengejutkan ini, berbagai macam peristiwa melalui berita yang di publish oleh banyak kalangan adalah tanda-tanda lain betapa mudahnya menemukan pembuktian atau minimal tanda-tanda bahwa hal tersebut benar ada dan sedang terus menggejala. kalo ada memey dengan foto pangeran Arab dan isterinya (gaya dan pola hidup) yang menggunakan busana ala dunia barat, dan sebaliknya ada memey yang memajang foto orang Indonesia yang menggunakan busana layaknya orang Arab yang hidup di padang pasir, maka aku pernah bikin komentar di bawah foto memey yang demikian "Arab hilang Arabnya jadi kebarat-baratan dan Indonesia hilang kenusantaraannya dan menjadi ke Arab-Araban".
Penurunan kualitas moral alias
Artinya bahwa kemajuan jaman, teknologi, informasi dan globalisasi ini bener-benar menjadi ancaman atas seluruh peradaban yang ada dimuka bumi ini, nah sekarang tidak usah bicara tentang dunia dan globalisasi, tetapi mari kita fokus pada diri kita, sekeliling kita, lingkungan keluarga dan rumah tangga kita, sekolah dimana anak kita setiap hari menimba ilmu, kumpulan para ibu-ibu muda yang setiap hari ada kegiatan ekstra selain nyambi ngantar n jemput little boy/girl nya sekolah dan kegiatan lainnya, sadarkah kita bahwa krisis yang sedang mengintai kita setiap saat menjadikan kita smakin jauh dari nilai-nilai budaya yang tadinya begitu luhur, yang tadinya menjadikan aku dan sahabat semua menjadi generasi-generasi yang tangguuh dan hebat dijaman sekarang?